Kacung kampret vs Kutu kupret

Tulisan Kolonel Adjie Suradji di Harian Kompas banyak mendapat tanggapan.  Tulisan yang berjudul Pemimpin, Keberanian dan Perubahan itu dianggap menyentil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang adalah panglima tertinggi TNI.

Tapi banyak juga yang mendukung dan memuji tulisan Adjie itu. Jarang-jarang militer yang cerdas sanggup menyampaikan pikiran secara terbuka dan di media massa pula. Dengan publikasi itu, Adjie bersedia didebat. bahkan saya sendiri merasa suka dengan tulisan sang kolonel.. entahlah apa entahyah.. keren aja

Serangan paling sengit memang datang dari orang-orang disekitar Presiden SBY. Tapi umumnya serangan mereka bukan soal substansi tulisan itu, tapi soal Adjie yang dianggap melanggar kepatutan militer itu.

Ruhut sitompel sitompul Adalah orang yang paling di sorot sebagai pendukung Sby kala beliau di caci dan di maki kritik, dalam hal seperti ini pihak mana saja memang berhak untuk menyampaikan uneg-unegnya bahkan seorang kolonel sekalipun meski dalam tatakrama TNI hal tersebut di haramkan, saya melihat ada gejala ketidakpuasan diri yang terpendam dan itu bukan hanya ada di dalam diri sang kolonel , saya yakin apa yang di tulis dalam kritikannya itu adalah hasil dari dia bercakap ria bersama kawan-kawan yang lain di kesatuan

Bayangkan ketika seorang kolonel mengkritik dengan bahasa yang lembut namaun di tanggapi dengan bahasa kasar dari seorang Ruhut siGompEl sitompul dengan sebutan dia (sang kolonel) Kutu kupret, bagaimana mungkin seorang anggota dewan perwakilan rakyat macam Rumput Segumpal Ruhut sitompul berbicara layaknya kacung buta huruf dan tidak berpendidikan, seharusnya dia om Ruhut itu membalas kritikan sang kolonel dengan membuat Sebuah opini berbentuk tulisan sama seperti dengan apa yang di lakukan sang kolonel Ngarti kaga lu... itu baru namanya Anggota dewan.

0 Comments